Revolusi besar-besaran di dunia digital, akankah menggeser keberadaan pelaku bisnis tradisional?

 

Pertumbuhan pesat dunia Digital

Memasuki masa dimana semua orang dapat mengakses tekhnologi dengan mudah, pasar e-commerce menjadi lahan basah bagi para pengusaha untuk mengembangkan bisnisnya. Peningkatan pengguna internet kian melonjak dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2020 diperkirakan bisnis online di Indonesia akan menembus angka US$ 130 miliar. Dan hingg tahun 2017, mengkominfo mengungkapkan bahwa aktivitas masyarakat pada digital marketplace meningkat 51%. Pertumbuhan yang begitu cepat dan pesat ini juga dapat dilihat dari banyaknya bermunculan start-up tidak hanya pada bidang ritel, tapi juga merambah dunia jasa dan finance technology seperti halnya gojek, uber dan UangTeman. Peluang ini juga yang dimanfaatkan oleh sebagian besar investor asing untuk turut andil dalam mengembangkan pasar e-commerce di Indonesia.

 

Mengapa memilih bisnis Online?

Kecenderungan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi online terdukung oleh niatan pemerintah memperluas area jangkauan Internet ke seluruh pelosok negeri. Tercatat data dari PFS, Indonesia terprediksi menjadi wilayah e-commerce dengan perkembangan paling cepat di kawasan Asia Pasifik. Perkiraan peningkatan sebanyak 239% dengan jumlah penjualan mencapai $ 11 miliar akan terjadi pada tahun 2018. Revolusi inilah yang menjadi angin segar bagi para penggiat pasar digital. Dengan mudah mereka dapat menjangkau konsumen dari manapun dan kapanpun. Tidak menutup hal ini akan menyebabkan persaingan yang ketat diantara para pengusaha online, tetapi justru menjadi hal ini jadi menarik bagi para konsumen. Karna mereka akan dimanjakan dengan berbagai pilihan produk dan harga yang variatif. Tergiur oleh kemudahan dan kecepatan bertransaksi inilah, banyak pula pebisnis yang tadinya hanya menggunakan pasar offline kini pun merambah dunia digital online.

 

Pengaruh bagi pelaku usaha tradisional

Kegiatan berjual beli dengan metode bertatap muka secara langsung serta menjalani proses tawar menawar merupakan kebiasaan lama yang mulai ditinggalkan oleh para konsumen. Mereka memilih untuk bersantai dirumah sambil menunggu barang pesanan datang. Penghematan waktu dan tenaga ini tentu meninggalkan resiko bagi usaha tradisional. Citra usaha tradisional dipengaruhi oleh ragam produk yang ditawarkan, jarak lokasi serta berbagai pertimbangan lain. Seperti misalnya, masyarakat kini lebih memilih untuk bepergian menggunakan transportasi online ketimbang berdesak-desakkan didalam bus ataupun menunggu lama untuk mencari pangkalan ojek. Masalah ini akan terus menggerus keberadaan pada pengusaha tradisional atau offline. Pasalnya dunia kian maju, tuntutan masyarakatpun semakin meningkat dalam hal kemudahan dan efisiensi waktu. Meskipun memiliki penggemar tersendiri, usaha konvensional harus memiliki nilai tambah sebanyak mungkin agar dapat bertahan di era digital modern.

 

Pemanfaatan Media Online

Meski tergeser oleh online marketspace, sebenarnya usaha tradisional bisa mengimbanginya. Yaitu dengan memanfaatkan media online untuk ajang promosi. Meskipun bukan sebagai tempat berjual beli, pemanfaatan media sebagai sarana memperkenalkan produk atau jasa kepada konsumen akan cukup membantu. Karna penyesuaian diri terhadap kecanggihan pasar online sangatlah penting. Tidak harus meninggalkan pasar offline, hanya saja butuh memperluas strategi penjualan agar tidak tertinggal dan hilang.

 

Dengan segala keunggulannya, bukan berarti dunia e-commerce akan mematikan para pengusaha tradisional atau offline sepenuhnya. Akan selalu ada mereka yang mendirikan sebuah warung, berjualan makanan dnegan gerobak dipinggir jalan, dan menyupir angkot untuk mengantar anda ketempat tujuan. Yang perlu digaris bawahi adalah, bagaimana cara kita melakukan penyesuaian diri agar minat konsumen pada usaha kita semakin tinggi. Mengancam, tapi tidak membunuh begitulah internet diilhami dari sudut pandang objektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *