Indonesia, negara sejuta potensi didalamnya. Masyarakatnya pun berkecimpung di dunia bisnis yang sangat beragam jenisnya. Namun ada beberapa kendala yang menimbulkan hambatan dalam memajukan perekonomian negara kita. Beberapa diantaranya yang paling mencolok ialah  peminjaman modal usaha serta pengetahuan akan pengolahan saham digital yang sedang menjadi tren dunia.

 

Mengapa Indonesia?

Diungkapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada kisaran tahun 2016 masyarakat memiiki angka kebutuhan pinjaman menyentuh angka 1,6 triliun. Dan mirisnya, hanya 600 triliun saja jumlah yang bisa terpenuhi oleh pemerintah serta lembaga perbankan. Angka yang sungguh jauh dari total biaya keseluruhan.

Tapi melalui perkembangan teknologi digital, masyarakat kini lebih mudah untuk memperoleh pinjaman modal dari sejumlah start-up yang menawarkan jasa peer-to-peer landing atau dikenal dengan peminjaman modal secara online. Maraknya kemunculan fintech di Indonesia menandakan bahwa begitu besar kesempatan yang dimiliki Indonesia untuk berlaga menjadi pemain utama dalam dunia ekonomi digital Asia.

 

Keunggulan di banyak sektor

Kemampuan untuk menjangkau pasar dengan berbagai tingkatan pengguna, digital ekonomi Indonesia merangkak naik dari tahun ke tahun. Terlebih melihat anemo masyarakat pada era bisnis dengan background kecanggihan internet, proyeksi Indonesia untuk meraih prestasi ekonomi digital terbuka lebar. Masyarakat pun kini telah menuai keuntungan dari keberadaan fintech, mereka berlomba-lomba untuk melayakkan bisnis mereka agar dapat terbiayai oleh investor online.

Selain itu, perlu kita ingat bahwa Indonesia mengantongi banyak sumber daya alam dari berbagai golongan. Maritim, minyak bumi, hasil tani hingga batu bara pun menjadi unggulan tanah air tercinta. Sumber daya inilah yang sebenarnya menjadi modal utama bagi pergerakan ekonomi Indonesia. Belum lagi menilik progress pemerintah untuk membangun infrastruktur negeri. Akan makin mudah bagi Indonesia mencapai masa kejayaannya di era digital modern.

Upaya memajujayakan negeri tidak hanya melibatkan sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusianya. Teruji lewat banyaknya start-up fintech, menandakan budaya ekonomi digital sudah dipahami betul oleh sebagian besar masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang mampu menggandeng teknologi untuk menghasilkan sebuah karya positif bagi perkembangan ekonomi tanah air. Sumber daya manusia yang rata-rata diisi oleh gdnerasi Y dan Z ini nyatanya mampu mengikuti perkembangan zaman, bahkan menciptakan tren-tren baru yang dialokasikan untuk meningkatkan proyeksi negeri menuju kancah ekonomi  digital terbaik di Asia.

 

Bayangkan, terhitung beberapa tahun kedepan, Indonesia akan mengalami peningkatan yang signifikan dalam urusan finansial melalui internet. Dibarengi dengan edukasi yang baik terhadap masyarakat tentang dunia digital, tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia akan mampu menduduki peringkat pertama sebagai negara penganut era ekonomi digital di ranah Asia Tenggara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *